Luwu – Gelombang aksi demonstrasi yang mendesak pembentukan Provinsi Luwu Raya kini mulai meredup di sejumlah wilayah Tanah Luwu. Dari empat daerah yang selama ini menjadi basis perjuangan, hanya Kabupaten Luwu yang masih konsisten menyuarakan tuntutan tersebut secara terbuka di ruang publik.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi beberapa waktu lalu, ketika Kabupaten Luwu Utara menjadi salah satu daerah terpanas dalam mengawal isu Provinsi Luwu Raya. Aksi massa, pernyataan sikap, hingga tekanan politik sempat menggema. Namun kini, geliat tersebut nyaris tak terdengar, seolah menghilang tanpa penjelasan.
Sementara itu, Kabupaten Luwu Timur sejak awal memang tidak menunjukkan pergerakan signifikan dalam mendorong pembentukan Provinsi Luwu Raya. Minimnya aksi dan pernyataan sikap dari elemen masyarakat maupun organisasi lokal membuat daerah ini dinilai pasif dalam agenda pemekaran wilayah.
Kondisi serupa juga terlihat di Kota Palopo. Kota yang digadang-gadang sebagai calon ibu kota Provinsi Luwu Raya justru tampak sunyi dari gerakan massa. Tidak terlihat adanya aksi demonstrasi, konsolidasi besar, maupun tekanan publik yang berarti dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena meredupnya aksi di sejumlah daerah ini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat Tanah Luwu. Ada apa sebenarnya? Apakah perjuangan Provinsi Luwu Raya mulai kehilangan energi, atau justru tersandera oleh kepentingan politik dan elite lokal?
Sejumlah aktivis menilai lemahnya konsolidasi lintas daerah menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, absennya sikap tegas dari kepala daerah dan wakil rakyat dinilai turut mempengaruhi melemahnya semangat kolektif perjuangan.



