Jakarta – Ramai-ramai anggota DPR RI dalam beberapa hari terakhir menyampaikan permintaan maaf atas kekacauan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Permintaan maaf ini muncul setelah meningkatnya gelombang protes dan kritik terhadap kinerja parlemen.
Meski disambut beragam, pengamat menilai langkah ini lebih banyak bermuatan simbolik ketimbang substantif. Menurut analisis sosiologi politik, permintaan maaf semacam ini merupakan upaya untuk mengembalikan legitimasi politik yang merosot di mata masyarakat.
“Dalam kondisi krisis, elite politik cenderung menampilkan solidaritas simbolik. Permintaan maaf adalah cara mereka mengirim sinyal empati, meski belum tentu diikuti langkah nyata,” jelas seorang akademisi sosiologi politik dari salah satu universitas negeri di Jakarta.
Belajar dari Jepang dan Korea Selatan
Fenomena permintaan maaf kolektif bukan hal baru di dunia politik. Di Jepang, misalnya, permintaan maaf publik oleh pejabat atau parlemen sudah menjadi tradisi kuat. Budaya politik di Negeri Sakura menekankan shazai (permintaan maaf tulus) yang biasanya disertai pengunduran diri atau perubahan kebijakan sebagai bentuk tanggung jawab nyata.
Di Korea Selatan, kasus serupa juga terjadi ketika parlemen atau pejabat pemerintah menghadapi skandal besar. Permintaan maaf di sana sering diikuti dengan tindakan korektif cepat, seperti audit kebijakan, pembentukan komisi independen, atau reformasi regulasi. Hal ini membuat permintaan maaf tidak hanya berhenti pada retorika, tetapi menghasilkan perubahan konkret.
Indonesia: Ujian Konsistensi
Sementara di Indonesia, pengamat komunikasi politik melihat bahwa permintaan maaf beramai-ramai DPR lebih cenderung sebagai framing politik untuk meredam gejolak. “Narasi empati itu penting, tapi masyarakat kini lebih kritis. Tanpa langkah nyata, permintaan maaf justru berisiko menambah sinisme publik,” kata seorang analis komunikasi politik.
Menurut kajian psikologi sosial, efektivitas permintaan maaf ditentukan oleh persepsi ketulusan. Jika rakyat menilai maaf hanya formalitas, maka efeknya bisa berbalik negatif dan memperkuat ketidakpercayaan.



