![]() |
| Pasir putih, air sebening kristal, dan langit biru yang tak berawan |
Mentari mulai merunduk, menjatuhkan bayangan panjang di sepanjang Pantai Losari. Angin laut berbisik lembut, membawa aroma garam dan ikan bakar yang menggoda. Di atas pasir putih yang halus, duduklah seorang perempuan bernama Aisya, matanya menatap lautan luas yang membentang hingga ke ufuk. Rambutnya yang hitam panjang terurai, dihembus angin sepoi-sepoi. Ia menunggu.
Aisya bukanlah perempuan sembarangan. Ia adalah seorang arsitek muda berbakat, dikenal tegas dan mandiri. Namun, di hadapan cinta, ketegasannya meleleh seperti es krim di bawah terik matahari Makassar. Ia menunggu seorang pria, lelaki yang telah mencuri hatinya sejak pertemuan tak sengaja di sebuah pameran arsitektur beberapa bulan lalu. Pria itu bernama Arya.
Arya, seorang penulis muda berbakat, memiliki senyum yang mampu mencairkan es kutub dan tatapan mata yang mampu membuat Aisya merasa seperti putri raja. Pertemuan mereka singkat, namun meninggalkan jejak yang begitu dalam. Arya, dengan kata-katanya yang puitis, telah melukiskan kisah cinta mereka di hati Aisya.
Hari ini, Arya berjanji akan datang. Janji yang membuat Aisya deg-degan sejak pagi. Ia telah memilih gaun berwarna biru muda, warna yang mengingatkannya pada langit senja di Pantai Losari. Ia juga telah menyiapkan secangkir kopi hitam manis, minuman kesukaan Arya.
Mentari semakin tenggelam, langit berubah warna menjadi gradasi jingga, merah, dan ungu yang memukau. Aisya mulai merasa cemas. Apakah Arya akan datang? Apakah ia telah melupakan janjinya?
Tiba-tiba, sebuah gitar mengalunkan melodi lembut. Aisya menoleh. Di kejauhan, di bawah pohon rindang, berdiri Arya. Ia tersenyum, senyum yang selalu membuat Aisya meleleh. Ia mendekat, gitar masih digenggamnya.
"Maaf terlambat," kata Arya, suaranya lembut seperti desiran ombak. "Ada sedikit masalah dengan mesin ketikku."
Aisya tersenyum, rasa cemasnya sirna. "Tidak apa-apa," jawabnya. "Yang penting kau datang."
Arya duduk di samping Aisya. Ia memainkan gitarnya, menyanyikan lagu cinta yang ia ciptakan khusus untuk Aisya. Liriknya sederhana, namun penuh makna, menggambarkan perasaan mereka yang begitu dalam. Mentari telah tenggelam, digantikan oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Di bawah langit malam yang indah, diiringi alunan gitar dan suara ombak, Aisya dan Arya berbagi cerita, tawa, dan mimpi-mimpi mereka untuk masa depan. Di Pantai Losari, di bawah mentari senja yang romantis, cinta mereka bersemi dan berkembang, seindah pemandangan alam yang membentang di hadapan mereka.



