//]]> Perjuangan Seorang TPP -->

Menu Atas

close

Perjuangan Seorang TPP

Admin

Perjuangan Seorang TPP
Senja Di Desa Sumber Bahagia. Bayangan masalah menggelayut di hati, namun tekad untuk tetap berjuang tak pernah padam.

Embun pagi masih menempel di dedaunan ketika langkah Ayu menapaki jalan setapak menuju Desa Sumber Bahagia. Udara sejuk membelai wajahnya, namun tak mampu meredakan gelisah yang menggerogoti hati. Ia, Ayu, seorang Tenaga Pendamping Profesional (TPP), baru beberapa bulan mengabdi di desa terpencil ini. Gelar D3 Pertanian yang disandangnya terasa begitu ringan di hadapan kenyataan pahit yang ia hadapi. Desa Sumber Bahagia, ironisnya, jauh dari kata bahagia.

 

Bayangan Pak Herman, Tenaga Ahli Kabupaten, menghantui pikiran Ayu. Wajahnya yang selalu di balik layar monitor, suaranya yang terdengar dingin melalui sambungan telepon, menciptakan jarak yang tak tertembus. Instruksi demi instruksi datang silih berganti, tanpa pernah mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. Proposal-proposal Ayu, yang disusun dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan kebutuhan mendesak warga, selalu ditolak dengan alasan yang klise dan tak berdasar. Ayu merasa seperti berjuang melawan bayangan, melawan birokrasi yang kaku dan tak berempati. Ia merasakan keputusasaan yang perlahan mengikis semangatnya. Setiap malam, ia menuliskan kekecewaannya dalam buku hariannya, kata-kata yang terurai menjadi curahan hati yang pilu.

 

Konflik di desa bagaikan benang kusut yang tak terurai. Kelompok tani berselisih soal pembagian air irigasi, kelompok nelayan memperebutkan wilayah penangkapan ikan, dan kelompok pemuda terpecah karena perbedaan ideologi. Ayu, di tengah pusaran konflik itu, berusaha menjadi penengah. Ia menjadi pendengar yang sabar, mencoba memahami setiap sudut pandang, mencari titik temu di antara perbedaan. Namun, luka lama dan kepentingan yang berbenturan begitu sulit untuk dipersatukan. Ia merasa seperti seorang penari yang berputar-putar tanpa henti, diiringi oleh irama konflik yang tak pernah berhenti.

 

Bayangan Pak Lurah, Kepala Desa yang tamak, semakin menghantui. Dana desa, yang seharusnya menjadi berkah bagi warga, justru menjadi sumber korupsi yang merajalela. Ayu menyaksikan sendiri bagaimana uang rakyat dihamburkan untuk kepentingan pribadi Pak Lurah dan kroninya. Ia mencoba melaporkan hal ini, tapi laporannya seperti ditelan bumi. Ia merasa seperti sebatang lilin kecil yang mencoba menerangi kegelapan, tapi apinya kian mengecil di hadapan kekuatan yang jauh lebih besar.

 

Yang paling menyayat hati adalah sikap apatis sebagian besar warga. Mereka terbiasa dengan kemiskinan dan ketidakadilan, hingga kehilangan semangat untuk berubah. Ayu mencoba menularkan semangatnya, menjelaskan manfaat program pemberdayaan, tapi responnya sangat minim. Ia merasa seperti berteriak di tengah gurun pasir, suaranya hilang ditelan angin yang kaku. Ia merasa pengorbanannya sia-sia, ia telah mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan mimpi-mimpinya, tapi tak ada tanda-tanda perubahan.

 

Suatu senja, Ayu duduk di tepi sawah, memandang hamparan padi yang menguning. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah yang basah. Ia merasakan keputusasaan yang mendalam. Ia telah berjuang keras, mengorbankan banyak hal, tapi hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Ia bertanya-tanya, apakah ia harus terus berjuang? Atau ia harus menyerah dan meninggalkan Desa Sumber Bahagia yang penuh dengan duka? Pertanyaan itu menghantui pikirannya, membawa kegelapan yang tak terkira. Masa depan Desa Sumber Bahagia, dan masa depan Ayu sendiri, masih tergantung pada titik titik yang belum terisi. Ia masih harus memilih, antara terus berjuang atau menyerah pada takdir. Senja telah tiba, membawa kegelapan yang menyelimuti hati Ayu.

Ikuti Blog Jejak Pengabdi

Ikuti Jejak Pengabdi