//]]> Kontrak Tak Otomatis Diperpanjang, Pendamping Desa Hadapi Ujian Baru -->

Menu Atas

close

Kontrak Tak Otomatis Diperpanjang, Pendamping Desa Hadapi Ujian Baru

Admin
Kontrak Tak Otomatis Diperpanjang, Pendamping Desa Hadapi Ujian Baru

Jakarta – Sejak diumumkannya Keputusan Menteri Desa (Kepmendes) Nomor 294 Tahun 2025 dan disosialisasikan secara daring, suasana hati para tenaga pendamping desa berubah drastis. Pasalnya, aturan tersebut membuka kemungkinan adanya tes ulang sebagai syarat perpanjangan kontrak.

Kabar itu menimbulkan keresahan di kalangan pendamping desa. Banyak di antara mereka merasa khawatir jika langkah pengabdian yang telah dijalani selama bertahun-tahun berakhir di meja ujian. “Informasi ini seperti kabar mendung yang menutup langit pengabdian,” ungkap salah satu pendamping desa saat dimintai tanggapannya.

Selama ini, proses rekrutmen, promosi, hingga evaluasi kinerja pendamping desa kerap menuai keluhan. Jalannya panjang, rumit, dan melelahkan. Tidak jarang, situasi tersebut membuat para pendamping kehilangan motivasi.

Jika tes ulang benar-benar diberlakukan, energi yang seharusnya dicurahkan untuk mendampingi desa dikhawatirkan justru terkuras oleh kecemasan. Banyak pendamping merasa hidup dalam ketidakpastian, seakan menunggu vonis yang tidak bisa ditebak.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai tes ulang juga bisa dipandang sebagai momentum positif. Tes tersebut dianggap sebagai peluang memperkuat kapasitas diri setelah pengalaman panjang di lapangan.

Dalam perspektif Red Car Theory, arah perhatian menentukan kualitas langkah. Jika pendamping hanya fokus pada risiko gagal, bayangan buruk itu akan semakin terasa nyata. Namun, jika fokus diarahkan pada sisi positif, tes ulang justru bisa menjadi energi baru untuk meneguhkan peran mereka di masyarakat desa.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Agustomi Masik, sebelumnya menegaskan bahwa pendamping desa diharapkan tidak hanya menjadi fasilitator, tetapi juga tampil sebagai local leader. Dengan demikian, jika tes ulang benar-benar digelar, tantangannya adalah bagaimana pendamping desa mampu mengubah rasa cemas menjadi peluang menunjukkan kualitas terbaik.

Ikuti Blog Jejak Pengabdi

Ikuti Jejak Pengabdi