Artikel – Libya di bawah kepemimpinan Muammar Khadafi selama lebih dari empat dekade (1969–2011) menjadi salah satu negara paling menonjol di Afrika. Khadafi yang naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta tak berdarah terhadap Raja Idris I pada 1 September 1969, langsung mengubah sistem politik menjadi republik dengan ideologi khas yang disebut Jamahiriyah atau “Negara Rakyat”.
Dengan kekayaan minyak yang melimpah, Khadafi menasionalisasi industri migas dan memanfaatkannya untuk membiayai berbagai program sosial. Pendidikan dan layanan kesehatan diberikan secara gratis, pembangunan perumahan rakyat digalakkan, hingga proyek raksasa Great Man-Made River berhasil mengalirkan air bersih dari gurun pasir ke kota-kota besar. Pada masanya, Libya bahkan tercatat memiliki standar hidup tertinggi di Afrika.
Namun, di balik pencapaian itu, gaya kepemimpinan Khadafi sarat kontroversi. Sistem otoritarianisme diterapkan dengan ketat, di mana oposisi dibungkam, media dikontrol penuh, dan rakyat tidak memiliki ruang untuk kebebasan berpolitik. Hubungan Libya dengan dunia internasional pun kerap memanas, terutama dengan Amerika Serikat dan negara Barat lainnya. Khadafi dituding mendukung gerakan militan dan aksi terorisme, termasuk kasus bom pesawat Pan Am 103 di Lockerbie tahun 1988 yang menewaskan ratusan orang.
Akibat serangkaian tuduhan tersebut, Libya sempat dikenai sanksi ekonomi internasional yang membuat negara ini terisolasi dari pergaulan global. Meski demikian, Khadafi tetap bertahan di kursi kekuasaan berkat kendali penuh atas militer dan dukungan sebagian rakyat yang menikmati manfaat pembangunan.
Pemerintahan panjang Khadafi berakhir tragis pada tahun 2011 ketika gelombang Arab Spring melanda Timur Tengah. Aksi protes rakyat berubah menjadi perang saudara, dan intervensi NATO mempercepat keruntuhan rezim. Khadafi akhirnya tewas pada 20 Oktober 2011 di Sirte, kota kelahirannya.
Kini, Libya masih berjuang keluar dari bayang-bayang masa lalu. Warisan Khadafi tetap menjadi perdebatan: ia dipandang sebagian sebagai pemimpin visioner yang membawa kemakmuran, namun juga dianggap diktator yang mengekang kebebasan rakyatnya.



