//]]> Banjir Akun Penyebar Berita Bohong di Facebook, Demi Viewer dan Cuan -->

Menu Atas

close

Banjir Akun Penyebar Berita Bohong di Facebook, Demi Viewer dan Cuan

Admin
Ilustrasi penyebaran berita bohong di Facebook dengan tulisan “Demi Viewer and Cuan”. Gambar menunjukkan banyak akun dan notifikasi yang mengapung di lautan media sosial, menggambarkan fenomena akun palsu yang menyebarkan hoaks demi mengejar penonton dan keuntungan finansial.
Ilustrasi banjir akun penyebar berita bohong di Facebook. Banyak akun palsu bermunculan menyebarkan informasi palsu demi mengejar viewer dan keuntungan (cuan) dari interaksi pengguna yang tertarik pada berita sensasional.

Luwu, 10 Oktober 2025 — Fenomena maraknya akun penyebar berita bohong atau hoaks di media sosial Facebook kembali menjadi perhatian publik. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak akun anonim maupun palsu bermunculan dengan tujuan yang beragam, mulai dari mengejar jumlah penonton (viewer), meningkatkan interaksi, hingga meraup keuntungan finansial dari konten yang disebarkan.

Pantauan di lapangan menunjukkan, sebagian besar akun tersebut aktif membagikan berita sensasional tanpa dasar fakta yang jelas. Mereka memanfaatkan karakter sebagian pengguna Facebook di Indonesia yang cenderung tertarik pada isu-isu mengejutkan atau kontroversial, dibandingkan dengan berita berbasis data dan kebenaran.

“Banyak akun sengaja membuat narasi provokatif agar postingan mereka viral. Semakin banyak orang berkomentar dan membagikan, semakin tinggi peluang mendapatkan uang dari iklan atau kolaborasi konten,” ujar seorang pegiat literasi digital di Luwu.

Fenomena ini semakin diperparah oleh rendahnya minat masyarakat untuk melakukan verifikasi informasi sebelum membagikan berita. Budaya share dulu, cek belakangan masih sangat kuat di kalangan pengguna Facebook, terutama yang mengandalkan media sosial sebagai sumber utama informasi sehari-hari.

Menurut laporan lembaga pemerhati media digital, tren penyebaran hoaks di Facebook meningkat signifikan menjelang momentum politik atau isu sosial tertentu. Akun-akun ini tidak jarang juga memanfaatkan algoritma Facebook yang lebih mengedepankan interaksi tinggi, tanpa mempertimbangkan kebenaran konten.

“Karakter pengguna Facebook di Indonesia berbeda dengan platform lain. Banyak yang menggunakan Facebook bukan sekadar untuk bersosialisasi, tapi juga untuk mencari berita cepat. Sayangnya, berita bohong justru lebih menarik minat karena dibungkus dengan bahasa emosional dan memancing rasa penasaran,” tambahnya.

Pemerintah bersama komunitas literasi digital diimbau untuk terus memperkuat edukasi masyarakat agar lebih cerdas dalam memilah informasi. Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada setiap berita yang beredar tanpa memastikan sumbernya dari media yang kredibel.

Ikuti Blog Jejak Pengabdi

Ikuti Jejak Pengabdi