Harga kakao di Sulawesi Selatan mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Dari harga sebelumnya yang sempat menembus Rp55.000 per kilogram, kini harga biji kakao hanya berkisar Rp20.000 per kilogram. Kondisi ini membuat para petani, terutama di Kabupaten Luwu daerah yang dikenal sebagai penghasil kakao terbesar di Sulawesi Selatan mengeluh dan merasa kecewa.
Sejumlah petani menilai, anjloknya harga kakao bukan disebabkan oleh permainan pedagang, melainkan karena minimnya perhatian pemerintah terhadap stabilitas harga komoditas unggulan tersebut.
Menurut para petani, pemerintah seolah tidak memiliki kebijakan konkret untuk melindungi petani dari fluktuasi harga pasar yang ekstrem, padahal kakao selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat di wilayah Luwu dan sekitarnya.
“Dulu waktu harga Rp55 ribu, kami semangat merawat kebun. Sekarang harga tinggal Rp20 ribu, jangankan untung, untuk biaya pupuk saja sudah berat,” ungkap Rahman, salah satu petani kakao di Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu.
Penurunan harga ini juga berdampak luas terhadap perekonomian desa. Banyak petani yang mulai menunda panen atau memilih tidak lagi mengelola kebun secara intensif karena harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, belum ada langkah nyata dari pemerintah daerah maupun pusat untuk menstabilkan harga kakao. Petani berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi, baik melalui subsidi, pembentukan badan penyangga harga, atau kebijakan ekspor yang berpihak pada petani.
“Kalau terus begini, kami bisa bangkrut. Pemerintah jangan hanya bangga menyebut kakao sebagai komoditas unggulan, tapi diam saat harga jatuh,” tambah Rahman dengan nada kecewa.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah agar lebih memperhatikan sektor pertanian, terutama kakao, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan di Sulawesi Selatan.



